Binomedia.id, JAKARTA – Komisi XII DPR RI memberikan apresiasi terhadap langkah MIND ID bersama PT Freeport Indonesia (PTFI) dalam mempercepat hilirisasi industri tembaga nasional melalui pembangunan fasilitas smelter dan Precious Metal Refinery (PMR) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur.
Investasi strategis tersebut dinilai menjadi tonggak penting dalam memperkuat industri pengolahan mineral di dalam negeri, meningkatkan nilai tambah komoditas tambang, serta memperbesar kontribusi terhadap penerimaan negara yang diproyeksikan mencapai lebih dari Rp120 triliun per tahun setelah produksi kembali normal.
Apresiasi tersebut disampaikan dalam rapat dengar pendapat Komisi XII DPR RI bersama PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Internasional Tbk.
Anggota Komisi XII DPR RI, Arif Riyanto Uopdana, menilai berbagai langkah strategis yang dilakukan Freeport menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap pengembangan industri pertambangan nasional.
“Saya apresiasi karena kemarin telah terjadi kesepakatan untuk investasi kembali sebesar 12 persen bersama pemerintah Indonesia. Ini juga menjadi terobosan baru terkait keberlanjutan usaha PT Freeport Indonesia, di mana izin usahanya diperpanjang sesuai usia cadangan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan perusahaan, khususnya di Kabupaten Mimika dan wilayah Papua secara umum.
Pandangan serupa disampaikan Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Alfons Manibui. Menurutnya, Freeport telah memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional sekaligus pembangunan di Papua.
“Kami ingin berterima kasih kepada PT Freeport atas kinerjanya yang sampai hari ini terus memberikan manfaat bagi negara. Kami juga harus mengakui Freeport telah banyak memberikan manfaat bagi pemerintah daerah dan terutama masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan,” katanya.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menjelaskan pembangunan smelter di KEK Gresik merupakan bagian dari agenda hilirisasi mineral nasional yang dijalankan pemerintah bersama MIND ID.
Smelter baru tersebut memiliki kapasitas pengolahan 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Bersama peningkatan kapasitas PT Smelting Gresik sebesar 300 ribu ton, total tambahan kapasitas pengolahan mencapai 2 juta ton konsentrat setiap tahun.
Dengan kapasitas PT Smelting yang telah beroperasi sebelumnya sebesar 1 juta ton, Freeport kini memiliki kemampuan memurnikan sekitar 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun di dalam negeri.
“Dengan beroperasinya smelter dan Precious Metal Refinery di Gresik, seluruh rantai nilai tembaga dari konsentrat, katoda tembaga, hingga logam mulia seperti emas dan perak kini dapat diproses di dalam negeri. Ini merupakan lompatan besar bagi hilirisasi mineral Indonesia,” kata Tony.
Selain smelter, perusahaan juga membangun fasilitas PMR berkapasitas 6.000 ton lumpur anoda per tahun untuk memurnikan emas, perak, serta logam kelompok platinum (Platinum Group Metals).
Fasilitas tersebut menggunakan teknologi double flash smelting and converting, sedangkan pemurnian logam mulia dilakukan melalui teknologi hydrometallurgy.
Melalui fasilitas hilirisasi tersebut, Freeport mampu memproduksi sekitar 600 ribu ton katoda tembaga setiap tahun. Bersama produksi PT Smelting, total kapasitas produksi katoda tembaga nasional mencapai sekitar 800 ribu ton per tahun.
PMR juga menghasilkan sekitar 50 ton emas, 200 ton perak, 30 kilogram platinum, 375 kilogram paladium, 285 ton selenium, 220 ton bismut, dan 2.200 ton timbal setiap tahun.
Seluruh produksi emas direncanakan akan diserap oleh PT Aneka Tambang Tbk, sementara produksi perak dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun ekspor.
Selain logam utama, fasilitas tersebut menghasilkan produk samping bernilai ekonomi berupa sekitar 1,5 juta ton asam sulfat, 1,3 juta ton copper slag, dan 150 ribu ton gipsum per tahun yang sebagian besar dimanfaatkan oleh industri dalam negeri.
Tony menjelaskan operasional smelter sempat terdampak kebakaran pada fasilitas Gas Cleaning Plant pada Oktober 2024. Setelah proses perbaikan selesai, fasilitas kembali beroperasi pada Mei 2025.
Namun, operasional kembali terganggu akibat longsoran di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave yang menghentikan pasokan konsentrat.
Saat ini perusahaan memanfaatkan masa penghentian operasi untuk melakukan inspeksi menyeluruh dan penyempurnaan fasilitas sebelum pasokan konsentrat kembali normal mulai September tahun ini.
“Fokus kami saat ini adalah memastikan proses pemulihan tambang berjalan aman sehingga pasokan konsentrat kembali normal. Ketika sisi hulu pulih dan smelter beroperasi penuh, manfaat hilirisasi akan semakin optimal, baik dalam bentuk peningkatan produksi logam, penguatan industri dalam negeri, maupun peningkatan penerimaan negara,” ujarnya.
Freeport memperkirakan kapasitas produksi tambang pada 2026 berada di kisaran 65 persen, meningkat menjadi sekitar 75 persen pada semester pertama 2027, sebelum kembali mencapai kapasitas penuh pada akhir tahun.
Seiring pemulihan produksi, kontribusi Freeport terhadap negara diproyeksikan meningkat signifikan.
Pada 2026, perusahaan menargetkan produksi sekitar 800 juta pound tembaga dan 700 ribu ounce emas atau sekitar 21 ton.
Produksi diperkirakan meningkat menjadi 1,2 miliar pound tembaga dan 1 juta ounce emas pada 2027, kemudian mencapai 1,6 miliar pound tembaga dan 1,4 juta ounce emas pada 2028.
Mulai 2029, pasokan bijih akan ditopang oleh tambang bawah tanah Kucing Liar, yang dipersiapkan menggantikan tambang DMLZ sehingga kapasitas produksi dapat dipertahankan pada kisaran 220 ribu ton bijih per hari.
Dengan asumsi harga tembaga sebesar US$6 per pound dan harga emas US$4.500 per ounce, penerimaan negara diperkirakan mencapai US$2,6 miliar pada 2026.
Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi US$4,7 miliar pada 2027, terdiri atas penerimaan pajak sekitar US$1,9 miliar, dividen melalui MIND ID sebesar US$1,9 miliar, serta sekitar US$800 juta penerimaan negara bukan pajak (PNBP), termasuk royalti.
Saat seluruh kapasitas produksi kembali normal, kontribusi Freeport kepada negara diperkirakan melampaui US$7 miliar atau sekitar Rp120 triliun per tahun.
Melalui kepemilikan mayoritas nasional di bawah MIND ID, proyek hilirisasi ini diharapkan memperkuat daya saing industri pengolahan mineral Indonesia, meningkatkan nilai tambah ekspor, memperbesar dividen dan penerimaan negara, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai salah satu produsen utama produk tembaga bernilai tambah di pasar global. (ris)
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Binomedia.id