Binomedia.id, JAKARTA — Pembiayaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dan kendaraan hybrid melalui perusahaan multifinance terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. Hingga Agustus 2026, penyaluran pembiayaan untuk kendaraan ramah lingkungan tersebut mencapai Rp26,20 triliun.
Angka tersebut tumbuh 34,76 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Pertumbuhan ini menunjukkan pembiayaan kendaraan listrik menjadi salah satu segmen yang semakin menarik bagi industri perusahaan pembiayaan.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman, mengatakan pembiayaan kendaraan listrik masih mencatatkan pertumbuhan dan menjadi salah satu area ekspansi strategis bagi perusahaan multifinance.
“Pembiayaan kendaraan listrik terus mencatatkan pertumbuhan dan menjadi salah satu area ekspansi yang strategis,” ujar Agusman dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK secara daring di Jakarta, Senin (5/10/2026).
Pertumbuhan EV Konsisten Sepanjang 2026
Data OJK menunjukkan pembiayaan kendaraan listrik terus meningkat secara bertahap sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Pada Januari 2026, pembiayaan kendaraan listrik tercatat sebesar Rp21,05 triliun, tumbuh 39,13 persen YoY.
Nilainya kemudian meningkat menjadi Rp21,94 triliun pada Februari dengan pertumbuhan 39,35 persen YoY. Pada Maret, pembiayaan kembali naik menjadi Rp22,50 triliun dengan pertumbuhan 35,27 persen YoY.
Tren peningkatan berlanjut pada April ketika pembiayaan mencapai Rp23,39 triliun atau tumbuh 32,05 persen YoY.
Pada Mei, nilainya meningkat menjadi Rp23,94 triliun dengan pertumbuhan 32,48 persen YoY. Selanjutnya, pembiayaan mencapai Rp24,60 triliun pada Juni atau tumbuh 34,70 persen YoY.
Pada Juli 2026, pembiayaan kendaraan listrik kembali naik menjadi Rp25,49 triliun, dengan pertumbuhan 37,84 persen YoY.
Hingga Agustus, nilainya mencapai Rp26,20 triliun atau tumbuh 34,76 persen YoY.
Berbanding Terbalik dengan Pembiayaan Kendaraan Umum
Pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik terjadi ketika pembiayaan kendaraan bermotor secara keseluruhan justru mengalami kontraksi.
OJK mencatat total penyaluran pembiayaan kendaraan bermotor oleh perusahaan multifinance mencapai Rp403,02 triliun per Agustus 2026. Angka tersebut turun 0,68 persen YoY.
“[Pembiayaan kendaraan bermotor] terkontraksi 0,68 persen (YoY) menjadi Rp403,02 triliun,” kata Agusman.
Kondisi tersebut memperlihatkan adanya perbedaan tren antara pembiayaan kendaraan secara umum dengan segmen kendaraan listrik dan hybrid yang masih mencatatkan pertumbuhan dua digit.
Piutang Multifinance Tumbuh 1,68 Persen
Secara keseluruhan, piutang pembiayaan perusahaan multifinance mencapai Rp514,08 triliun per Agustus 2026. Nilai tersebut tumbuh 1,68 persen YoY.
Dari sisi kualitas pembiayaan, profil risiko perusahaan pembiayaan masih terjaga. Rasio Non Performing Financing (NPF) gross tercatat sebesar 3,04 persen, sedangkan NPF net berada di level 0,83 persen.
Agusman mengatakan perkembangan pembiayaan kendaraan listrik perlu tetap memperhatikan sejumlah tantangan. Salah satunya adalah perkembangan pasar yang dinamis serta kesiapan ekosistem pendukung kendaraan listrik.
Ekosistem tersebut mencakup ketersediaan infrastruktur pengisian daya, perkembangan teknologi, harga kendaraan, hingga tingkat penerimaan masyarakat terhadap kendaraan listrik dan hybrid.
EV Jadi Segmen Strategis Multifinance
Pertumbuhan pembiayaan EV dan hybrid menunjukkan semakin besarnya peran perusahaan multifinance dalam mendukung transisi menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan.
Kendati demikian, pertumbuhan pembiayaan perlu berjalan seiring dengan perkembangan ekosistem kendaraan listrik secara keseluruhan.
Dengan pembiayaan yang telah mencapai Rp26,20 triliun hingga Agustus 2026, segmen kendaraan listrik dan hybrid berpotensi menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru bagi industri multifinance di tengah kontraksi pembiayaan kendaraan bermotor secara umum.
OJK pun melihat pembiayaan kendaraan listrik sebagai salah satu area ekspansi strategis yang perlu terus dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan kesiapan ekosistem pendukungnya. (ris)
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Binomedia.id