BerandaBisnisAset BCA Syariah Tembus Rp20,7 Triliun, Pembiayaan Tumbuh 20,5%

Aset BCA Syariah Tembus Rp20,7 Triliun, Pembiayaan Tumbuh 20,5%

Binomedia.id, JAKARTA – PT Bank BCA Syariah mencatatkan pertumbuhan bisnis yang solid pada semester I 2026. Hingga Juni 2026, total aset perseroan mencapai Rp20,7 triliun, meningkat 17,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang ekspansi pembiayaan, peningkatan dana pihak ketiga (DPK), serta lonjakan transaksi digital.

Dari sisi profitabilitas, BCA Syariah membukukan laba setelah pajak sebesar Rp109,4 miliar pada semester I 2026, naik 9,2% dibandingkan Rp100,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan laba tersebut berlangsung di tengah ekspansi bisnis yang cukup agresif. Pembiayaan perseroan mencapai sekitar Rp13,6 triliun per Juni 2026, tumbuh 20,5% secara tahunan. Kinerja ini menunjukkan peningkatan penyaluran dana kepada nasabah menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan aset perusahaan.

Sejalan dengan ekspansi pembiayaan, pendapatan pembiayaan (financing income) BCA Syariah meningkat 16,6% menjadi Rp512,9 miliar pada semester I 2026, dibandingkan Rp439,8 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, pendapatan margin tercatat sebesar Rp422,3 miliar, naik 13,4% dibandingkan Rp372,4 miliar pada Juni 2025.

Pembiayaan Produktif Jadi Penopang Bisnis

Struktur pembiayaan BCA Syariah memperlihatkan kontribusi kuat dari segmen komersial. Pada akhir 2025, pembiayaan komersial tercatat sebesar Rp10,1 triliun atau sekitar 76,8% dari total portofolio pembiayaan.

Di sisi lain, pembiayaan konsumer mencapai Rp2,1 triliun setelah tumbuh 47,1% secara tahunan. Perkembangan ini menunjukkan perseroan mengembangkan bisnis melalui kombinasi pembiayaan produktif dan konsumer.

Dari sisi pendanaan, DPK BCA Syariah mencapai Rp15,4 triliun pada Juni 2026, tumbuh 10,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan DPK menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung ekspansi pembiayaan. Bagi perbankan, kemampuan menghimpun dana masyarakat secara berkelanjutan diperlukan untuk menjaga likuiditas sekaligus mengendalikan biaya dana.

Meski demikian, pertumbuhan pembiayaan yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK membuat pengelolaan likuiditas dan strategi penghimpunan dana tetap menjadi perhatian dalam menjaga kesinambungan ekspansi bisnis.

Kualitas Pembiayaan Tetap Jadi Perhatian

Di tengah peningkatan penyaluran pembiayaan, BCA Syariah mencatat rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) gross sebesar 1,84% per Juni 2026. Sementara itu, NPF net berada pada level 0,41%.

Perseroan juga mencatat rasio Financing at Risk (FAR) sebesar 5,38%. Indikator ini menjadi salah satu ukuran tambahan untuk memantau risiko kualitas portofolio pembiayaan.

Kualitas aset menjadi faktor penting karena ekspansi pembiayaan yang tinggi perlu diimbangi proses analisis kelayakan nasabah, pemantauan pembayaran, serta pengelolaan risiko secara disiplin.

Dengan demikian, kemampuan menjaga kualitas pembiayaan akan turut menentukan keberlanjutan pertumbuhan dan profitabilitas perseroan pada semester kedua 2026.

Transaksi Digital Melonjak

Selain pembiayaan, layanan digital mulai memberikan kontribusi lebih besar terhadap aktivitas bisnis BCA Syariah. Pada semester I 2026, pendapatan berbasis biaya (fee income) perseroan meningkat 30,4%.

Pertumbuhan tersebut berkaitan dengan peningkatan aktivitas administrasi pembiayaan, pertumbuhan rekening, serta transaksi melalui kanal digital.

Dari sisi volume transaksi, penggunaan mobile banking tumbuh 138% pada semester pertama 2026. Transaksi melalui sistem Real Time Gross Settlement (RTGS) dan Sistem Kliring Nasional (SKN) meningkat 74%, sedangkan transaksi QRIS melonjak 280% dan BI-FAST tumbuh 135%.

Peningkatan transaksi digital membuka peluang bagi perseroan untuk memperluas penggunaan layanan perbankan, memperkuat hubungan dengan nasabah, serta meningkatkan pendapatan nonpembiayaan.

Diversifikasi sumber pendapatan tersebut menjadi penting agar pertumbuhan bisnis tidak hanya bergantung pada penyaluran pembiayaan dan pendapatan margin.

Bagian dari Ekosistem Grup BCA

Kinerja BCA Syariah juga tidak terlepas dari posisinya sebagai bagian dari Grup BCA yang memiliki jaringan nasabah dan infrastruktur transaksi berskala besar.

Pada semester I 2026, BCA mencatatkan kredit konsolidasi sebesar Rp1.036 triliun dan dana pihak ketiga Rp1.284 triliun. Skala bisnis induk tersebut menjadi konteks bagi pengembangan layanan perbankan syariah dalam ekosistem grup.

Sebagai perbandingan, sepanjang 2025, aset BCA Syariah mencapai Rp19,2 triliun, tumbuh 15,4%, sedangkan laba bersih tercatat Rp212 miliar, juga meningkat 15,4%. Pembiayaan pada periode tersebut tumbuh 23,1% menjadi Rp13,2 triliun.

Memasuki semester kedua 2026, perseroan menghadapi tantangan untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pengelolaan risiko kredit, likuiditas, dan biaya dana akan menjadi faktor penting dalam menentukan hasil akhir tahun.

Dengan aset yang telah mencapai Rp20,7 triliun, BCA Syariah memiliki tiga penggerak bisnis utama, yakni ekspansi pembiayaan, penghimpunan dana masyarakat, dan pertumbuhan transaksi digital.

Kombinasi ketiganya berpotensi mendukung peningkatan profitabilitas dalam jangka menengah. Namun, keberlanjutan pertumbuhan akan sangat bergantung pada kemampuan perseroan menjaga kualitas pembiayaan, memperkuat pendanaan, serta mengoptimalkan pendapatan dari layanan digital. (ris)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Binomedia.id


RELATED ARTICLES

Most Popular