Binomedia.id, JAKARTA – Film “Beautiful Pain” mengangkat perjuangan perempuan menghadapi pernikahan toxic, kekerasan dan pelecehan seksual, serta stigma sosial terhadap ibu tunggal melalui kisah Niken yang berjuang merebut kembali martabat dan hak asuh anak-anaknya. Film produksi Dapur Film bersama produser Hanung Bramantyo dan Executive Producer Nikita Mirzani ini menggelar gala premiere di Epicentrum XXI, Jakarta, sebelum tayang serentak di bioskop Indonesia pada 22 Oktober 2026.
Mengusung pesan “Fight the Trauma”, film ini tidak hanya menyajikan drama kehidupan, tetapi juga menyoroti persoalan sosial yang kerap membungkam perempuan ketika menghadapi kekerasan. Melalui kisah Niken, ” Beautiful Pain” mengajak masyarakat membangun empati, menghentikan kebiasaan menyalahkan korban (victim blaming), serta memberikan ruang aman bagi perempuan untuk menyuarakan pengalaman mereka.
Gala premiere tersebut menjadi momentum bagi para kreator dan pemeran untuk menyampaikan pesan tentang keberanian menghadapi trauma, melepaskan diri dari hubungan yang merusak, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
Film “Beautiful Pain” mengikuti perjalanan Niken, yang diperankan Raihaanun, dalam mengambil keputusan besar untuk mengakhiri pernikahan toxic dengan Dirga (Baim Wong). Keputusan tersebut diambil demi menjaga kesehatan mental dan masa depan kedua anaknya, meskipun ia harus meninggalkan kenyamanan materi dan memulai kembali kehidupannya dari nol.
Setelah bercerai, perjuangan Niken tidak serta-merta berakhir. Ketika berusaha mandiri secara ekonomi dan memperjuangkan hak asuh anak-anaknya, ia justru menghadapi pelecehan seksual, fitnah, serta tekanan lingkungan yang meragukan integritasnya.
Alih-alih memperoleh dukungan, Niken dihadapkan pada tuntutan untuk diam demi menjaga nama baik. Situasi tersebut menggambarkan bagaimana korban kekerasan dapat mengalami penderitaan berlapis akibat stigma dan sikap masyarakat yang cenderung menyalahkan korban.
Di tengah tekanan tersebut, Niken memilih untuk tidak lagi bungkam. Ia berani bersuara dan memperjuangkan martabat dirinya serta hak anak-anaknya, sekaligus menghadapi konsekuensi sosial dari keputusannya.
Aktris Raihaanun mengaku tersentuh saat mendalami karakter Niken. Menurutnya, tokoh tersebut merepresentasikan banyak perempuan yang berusaha bangkit dari pengalaman traumatis, tetapi kembali dihadapkan pada persoalan baru ketika mencoba menata kehidupan.
“Setiap orang, setiap wanita, pasti pernah merasakan jatuh dan terjebak dalam jurang yang paling dalam. Niken adalah gambaran nyata wanita-wanita di luar sana yang kuat dan mampu melepaskan masa lalunya yang toxic. Tapi yang paling menyakitkan adalah ketika seorang perempuan sudah berusaha bangkit, ia malah kembali diuji dengan pelecehan dan fitnah di saat orang sekitar justru menyalahkannya,” ungkap Raihaanun.
Ia berharap film tersebut dapat memberikan dukungan moral kepada perempuan yang mengalami situasi serupa, khususnya mereka yang harus berjuang sebagai ibu tunggal.
“Menjadi ibu tunggal yang berani bicara dan melawan demi anak itu butuh keberanian yang luar biasa berdarah-darah. Aku harap kalian yang sedang mengalami apa yang dialami Niken bisa melihat film ini dan menyadari bahwa kalian tidak sendiri, kalian tidak salah, dan kalian sangat pantas untuk mendapatkan ketenangan serta kebahagiaan,” lanjutnya.
“Beautiful Pain” sekaligus menandai debut penyutradaraan film layar lebar Dmaz Brodjonegoro. Bersama penulis skenario Titien Wattimena, Dmaz mengembangkan cerita yang menempatkan pengalaman perempuan dan persoalan kekerasan sebagai bagian penting dari percakapan sosial.
Ia berharap film tersebut tidak berhenti sebagai hiburan, tetapi juga mendorong masyarakat membicarakan persoalan yang selama ini kerap dianggap tabu.
“Dari awal saya sangat ingin film ini tidak hanya menjadi sekadar tontonan hiburan, namun dapat memantik perbincangan-perbincangan penting yang selama ini dibungkam di masyarakat kita. Bagaimana perempuan sering kali tidak punya ruang aman untuk bersuara saat disakiti, dan betapa beratnya beban seorang ibu yang berjuang sendirian,” ujar Dmaz.
Ia menambahkan, film ini diharapkan dapat mendorong penonton untuk membangun empati dan menjadi pribadi yang lebih baik setelah menyaksikan perjuangan Niken.
Sementara itu, produser Dapur Film Hanung Bramantyo mengapresiasi visi kemanusiaan yang dibawa Dmaz dalam menggarap cerita tersebut bersama Titien Wattimena.
“Saat saya mengembangkan cerita ini bersama Dmaz dan Mba Titin Wattimena, saya sudah bisa melihat kalau Dmaz adalah seorang sutradara yang punya visi kemanusiaan yang kuat, dan saya sangat bangga bisa mendukung visinya tersebut,” kata Hanung.
Executive Producer Nikita Mirzani juga menegaskan bahwa film ini tidak berpusat pada dirinya, melainkan pada perjuangan perempuan Indonesia secara luas.
“Ini bukan film tentang Nikita Mirzani, tapi ini adalah film tentang semua wanita Indonesia, yang berani berjuang, berani mengambil risiko, berani melangkah lebih jauh lagi ke depan,” tuturnya.
Pesan emosional “Beautiful Pain” turut dihadirkan melalui instalasi puluhan kertas berbentuk kupu-kupu yang menghiasi lobi Epicentrum XXI saat gala premiere.
Instalasi tersebut memuat curahan hati anonim dari publik, mulai dari pengalaman menghadapi perselingkuhan, kekerasan, dan stigma sosial hingga rasa bersalah yang dialami ibu tunggal. Sejumlah pesan juga berisi afirmasi tentang keberanian untuk pulih dan melanjutkan kehidupan.
Kupu-kupu dipilih sebagai simbol metamorfosis, menggambarkan proses seseorang keluar dari pengalaman traumatis untuk menemukan kembali kekuatan dalam dirinya. Instalasi tersebut sekaligus menjadi ruang refleksi bahwa setiap orang memiliki perjalanan pemulihan yang berbeda dan membutuhkan dukungan lingkungan.
Melalui pesan “Every Pain Has a Beautiful Side”, film ini mengajak masyarakat melihat bahwa pengalaman menyakitkan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghakimi seseorang, melainkan momentum untuk menghadirkan empati dan dukungan.
Film “Beautiful Pain” dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026. Informasi terbaru mengenai film dan ruang diskusi resminya dapat diikuti melalui akun media sosial @filmbeautifulpain dan @dapurfilm.(why)
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Binomedia.id