binomedia.id – Jakarta, Program “Mudik ke Jakarta” yang diinisiasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada periode Idulfitri 1447 Hijriah menunjukkan dampak ekonomi signifikan. Hingga 25 Maret 2026, total nilai transaksi tercatat mencapai Rp21 triliun dan diproyeksikan masih akan meningkat hingga akhir program pada 31 Maret 2026.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan capaian tersebut mencerminkan tingginya aktivitas konsumsi masyarakat yang didorong oleh mobilitas Lebaran serta integrasi program lintas sektor.
“Rekornya sudah mencapai Rp21 triliun, dan kami optimistis angka ini masih akan bertambah hingga akhir periode,” ujar Pramono di Balai Kota DKI Jakarta.
Program ini melibatkan kolaborasi dengan pelaku industri strategis, seperti maskapai Citilink dan PT Kereta Api Indonesia, serta sektor perhotelan, ritel, dan destinasi wisata. Sinergi tersebut mendorong efek multiplier terhadap berbagai sektor ekonomi.
Kebijakan tambahan berupa penggratisan transportasi publik pada 21–22 Maret juga terbukti meningkatkan mobilitas. Jumlah pengguna MRT tercatat mencapai 135.117 penumpang atau naik 59 persen secara tahunan, sementara LRT Jakarta tumbuh 6 persen menjadi 9.987 penumpang.
Dari sisi pariwisata, lonjakan kunjungan terlihat di sejumlah destinasi utama. Monumen Nasional mencatat 126.797 pengunjung, Taman Margasatwa Ragunan sebanyak 222.991 pengunjung, dan Ancol mencapai 155.000 pengunjung selama periode libur Lebaran.
Keberhasilan program ini mulai direplikasi oleh sejumlah daerah. Kota Semarang mencatat transaksi sekitar Rp8 miliar, sementara Surabaya mencapai Rp6,2 miliar melalui program serupa.
Fenomena ini menunjukkan potensi “Mudik ke Kota” sebagai instrumen stimulus ekonomi berbasis mobilitas musiman, terutama dalam menggerakkan konsumsi domestik dan sektor jasa.
“Banyak provinsi mulai mengadopsi konsep ini untuk mendorong ekonomi daerah,” kata Pramono.
Selain dampak ekonomi, Pemprov DKI juga menilai program ini berhasil menjaga kualitas layanan publik. Selama periode mudik Lebaran, operasional transportasi, destinasi wisata, dan layanan kota berjalan relatif lancar tanpa keluhan signifikan.
Ke depan, program serupa dinilai berpotensi menjadi agenda tahunan yang tidak hanya memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, tetapi juga mempertegas posisi Jakarta sebagai pusat ekonomi berbasis konsumsi domestik dan destinasi urban tourism. (dil)
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Binomedia.id