binomedia.id – Jakarta. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mendukung program peningkatan literasi dan inklusi keuangan yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui kegiatan kuliah umum dan diskusi panel di Universitas Jember (UNEJ), Jawa Timur.
Kegiatan bertema “Asuransi, Generasi Muda, dan Kontribusi bagi Negeri” ini dihadiri lebih dari 300 peserta yang terdiri atas mahasiswa, civitas academica, serta pemangku kepentingan daerah. Turut hadir Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) OJK, Ogi Prastomiyono, pimpinan UNEJ, Dewan Asuransi Indonesia (DAI), serta perwakilan asosiasi industri asuransi.
Ogi Prastomiyono menekankan pentingnya edukasi keuangan sejak dini agar generasi muda mampu memahami pengelolaan risiko dan mengambil keputusan finansial yang sehat.
“Risiko merupakan bagian dari kehidupan. Yang membedakan adalah kesiapan dalam mengelolanya. Asuransi hadir sebagai instrumen perlindungan agar masyarakat tidak menghadapi risiko sendirian ketika hal yang tidak diharapkan terjadi,” ujarnya.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi asuransi tercatat sebesar 45,45 persen, sementara indeks inklusi asuransi berada pada 28,50 persen. Kesenjangan ini dinilai perlu dipersempit melalui edukasi berkelanjutan, khususnya di kalangan generasi muda.
Rektor Universitas Jember, Iwan Taruna, menyebut kegiatan tersebut sangat strategis di tengah dinamika ekonomi nasional dan global yang fluktuatif. Menurutnya, sektor keuangan berperan vital dalam mendorong pertumbuhan sekaligus melindungi masyarakat dari berbagai risiko ekonomi.
Plt. Ketua Dewan Pengurus AAJI, Albertus Wiroyo, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan investasi jangka panjang bagi industri asuransi jiwa.
“AAJI memandang kolaborasi dengan perguruan tinggi sebagai langkah strategis. Masa depan industri asuransi jiwa sangat ditentukan oleh generasi muda, baik sebagai pengguna layanan maupun sebagai talenta profesional yang akan menggerakkan industri ke depan,” kata Albertus.
Ia juga memaparkan bahwa hingga Januari–September 2025, total aset industri asuransi jiwa mencapai Rp646,58 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp571,40 triliun merupakan aset investasi yang ditempatkan pada instrumen jangka panjang seperti Surat Berharga Negara (SBN), sehingga turut mendukung pembiayaan pembangunan dan ketahanan ekonomi nasional.
Dalam kesempatan itu, AAJI dan Universitas Jember menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk memperkuat sinergi antara dunia akademik dan industri, khususnya dalam bidang pendidikan, penelitian, serta pengembangan sumber daya manusia.
AAJI juga memperkenalkan Program Beasiswa Harry Diah (BHD) bagi mahasiswa S1, S2, dan S3 yang menyusun skripsi, tesis, atau disertasi terkait industri asuransi jiwa.
Plt. Ketua Dewan Pengurus AAJI, Handojo G. Kusuma, menegaskan bahwa program tersebut menjadi jembatan antara dunia akademik dan praktik industri.
“Melalui Beasiswa Harry Diah, kami ingin mendorong agar riset mahasiswa tidak berhenti sebagai kewajiban akademik semata, tetapi mampu memberikan solusi nyata bagi industri dan masyarakat,” ujarnya.
Sejak berjalan pada 2024 hingga Desember 2025, program BHD telah menggandeng 11 perguruan tinggi dan menjangkau 46 penerima beasiswa, terdiri atas 34 mahasiswa S1, 9 mahasiswa S2, dan 3 mahasiswa S3. AAJI menyalurkan insentif riset sebesar Rp10 juta untuk S1, Rp15 juta untuk S2, dan Rp20 juta untuk S3 yang dicairkan secara bertahap sesuai progres penyelesaian tugas akhir.
AAJI menilai keterlibatan generasi muda, baik sebagai nasabah maupun profesional, menjadi kunci keberlanjutan industri di masa depan. Melalui dukungan terhadap program literasi OJK, kolaborasi akademik, serta penguatan riset melalui Beasiswa Harry Diah, AAJI menegaskan komitmennya untuk menjaga kepercayaan serta menghadirkan perlindungan yang relevan dan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.(why)
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Binomedia.id


