Binomedia.id, Jakarta – Rumah produksi MD Pictures resmi memperkenalkan proyek adaptasi film Iran, Children of Heaven, ke dalam konteks Indonesia. Film yang pertama kali dirilis pada 1997 itu ditulis dan disutradarai oleh Majid Majidi dan dikenal luas sebagai salah satu karya sinema humanis paling berpengaruh di dunia.
Versi aslinya mencatat sejarah dengan masuk nominasi Best Foreign Language Restricted at the Academy Awards akhir 1990-an, selain memenangkan sejumlah penghargaan festival internasional. Ceritanya juga telah diadaptasi di berbagai negara Asia, menandakan kuatnya daya hidup narasi tentang keluarga dan keterbatasan ekonomi.
Di Indonesia, proyek ini digarap oleh sutradara Hanung Bramantyo, dengan skenario ditulis Oka Aurora dan Hanan Novianti. Film dijadwalkan tayang pada 27 Mei dan kini berada dalam tahap pascaproduksi.
Berbeda dari sekadar mengulang kisah, versi Indonesia berupaya menempatkan cerita dalam lanskap sosial yang lebih dekat dengan realitas masyarakat lokal. Latar keluarga kelas pekerja disesuaikan dengan dinamika perkotaan Indonesia, termasuk tekanan ekonomi dan akses pendidikan anak.
Kisahnya tetap berangkat dari peristiwa sederhana: hilangnya sepatu sang adik yang membuat kakak-beradik tersebut harus berbagi alas kaki untuk sekolah. Konflik berkembang dari keputusan mereka merahasiakan masalah itu agar tidak menambah beban orang tua.
Produser sekaligus CEO MD Entertainment, Manoj Punjabi, mengungkapkan proses memperoleh hak adaptasi tidak berlangsung singkat.
“Cerita ini kami sudah kejar tujuh sampai delapan tahun, bahkan hampir sepuluh tahun. Coba terus, belum dapat. Akhirnya bisa jatuh ke tangan MD. Jadi saya bersyukur,” ujar Manoj saat ditemui di Jakarta.
Menurut Manoj, alasan utama ia bersikeras menghadirkan film ini karena kedekatan personal dengan cerita aslinya.
“Salah satu film paling menyentuh yang pernah saya tonton. Sekarang waktunya menghidupkannya kembali untuk generasi baru. Children of Heaven, coming soon,” katanya.

Ia mengakui, mengadaptasi karya dengan reputasi global memiliki risiko tersendiri. Publik kerap membandingkan dengan versi orisinal. Namun ia optimistis pendekatan yang diambil timnya akan menghadirkan pengalaman berbeda.
“Jarang kalau kita adaptasi film yang sudah ada benchmark-nya. Biasanya orang bilang original lebih bagus. Tapi saya bisa bilang, Anda semua tidak akan kecewa,” ujarnya.
Bagi Hanung Bramantyo, proyek ini memiliki dimensi personal sekaligus profesional. Ia mengenal film karya Majid Majidi tersebut sejak masa kuliah di Institut Kesenian Jakarta, ketika dipelajari dalam konteks pengadeganan realis.
“Film ini punya posisi penting banget buat saya sebagai mahasiswa film dulu. Waktu pertama kali saya nonton, itu jadi bahan kuliah saya di Institut Kesenian Jakarta,” kata Hanung.
Kedekatan tersebut justru menghadirkan beban. Ia menyadari film aslinya merupakan nominasi Oscar dengan standar artistik yang tinggi.
“Iya, benar-benar saya antara senang sama juga beban yang sangat besar. Karena ini film nominasi Oscar. Apa yang harus saya lakukan supaya bisa menyamai ruh aslinya?” ujarnya.
Hanung juga menekankan bahwa adaptasi ini tidak dimaksudkan untuk mengeksploitasi kesedihan atau kemiskinan. Fokusnya adalah pada nilai martabat keluarga di tengah keterbatasan.
“Ini bukan eksploitasi kemiskinan. Justru di tengah situasi yang terbatas, kita harus menunjukkan martabat kita sebagai manusia,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan penyutradaraan diarahkan untuk menghadirkan realitas apa adanya tanpa manipulasi dramatik berlebihan.
“Saya tidak punya niat membuat kalian menangis. Saya hanya menunjukkan bahwa hidup itu seperti ini,” kata Hanung.
Dua pemeran utama anak, Jared Ali dan Humayra Jara, terpilih melalui proses audisi terbuka. Keduanya memerankan kakak-adik yang menjadi inti cerita.
Sejumlah adegan fisik, termasuk lomba lari yang menjadi momen penting, dikerjakan dengan pengawasan khusus untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan pemain.
Aktor Andri Mashadi yang memerankan sosok ayah mengaku terhubung secara emosional dengan kisah ini sejak pertama kali menonton versi aslinya.
“Hubungan kakak-adik yang begitu tulus, tanpa ego, membuat kesulitan hidup tetap bisa dihadapi bersama sebagai keluarga,” ujarnya.
Sementara Faradina Mufti menilai kekuatan utama film ini terletak pada dinamika dua karakter anak.
“Core-nya atau nyawa dari film ini memang di anak-anak mereka berdua ini. Film ini bisa hidup karena mereka,” katanya.
Penulis skenario Hanan Novianti menegaskan esensi cerita tetap dipertahankan, yakni tentang daya tahan dan solidaritas dalam keluarga kecil yang menghadapi tekanan hidup.
“Kita sudah tahu esensi ceritanya, tentang resiliensi kakak-adik. Bagaimana mereka bertahan dan berdaya di tengah kehidupan yang menekan,” ujarnya.
Melalui adaptasi ini, tim produksi berharap nilai solidaritas dan tanggung jawab keluarga dapat kembali mendapat ruang di layar lebar Indonesia. Dengan latar sosial yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat, versi Indonesia “Children of Heaven” diarahkan menjadi refleksi tentang martabat dan ikatan darah dalam realitas yang sederhana. (Kul)
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Binomedia.id


