BerandaBisnisBank Jakarta: Fundamental Perbankan Tetap Solid, Transformasi Bisnis Jadi Kunci Hadapi Dinamika...

Bank Jakarta: Fundamental Perbankan Tetap Solid, Transformasi Bisnis Jadi Kunci Hadapi Dinamika Ekonomi

Binomedia.id , JAKARTA – Industri perbankan nasional dinilai masih memiliki fundamental yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Meski demikian, perubahan lanskap bisnis, meningkatnya biaya dana, serta percepatan transformasi digital menjadi tantangan baru yang harus direspons melalui strategi bisnis yang adaptif dan berorientasi pada pertumbuhan berkualitas.

Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, mengatakan indikator utama industri perbankan nasional masih menunjukkan kinerja yang sehat. Pertumbuhan kredit tetap positif, permodalan berada pada level yang kuat, likuiditas terjaga, dan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) masih relatif rendah.

Namun demikian, menurut Agus, tantangan utama yang dihadapi industri saat ini bukan lagi terletak pada kekuatan fundamental, melainkan perubahan lingkungan bisnis yang berlangsung sangat cepat.

“Persoalannya sebenarnya bukan di fundamentalnya, tetapi medan permainannya berubah,” ujar Agus dalam diskusi Shaping the Next Era of Indonesia’s Capital Market pada Investor Day 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.

Ia menjelaskan, industri perbankan dalam beberapa tahun terakhir menghadapi berbagai tekanan eksternal, mulai dari pandemi Covid-19, ketegangan geopolitik global, hingga perubahan kebijakan perdagangan internasional. Situasi tersebut menuntut bank untuk meninggalkan pola bisnis konvensional dan mempercepat transformasi organisasi.

Salah satu tantangan yang kini menjadi perhatian industri adalah meningkatnya biaya dana (cost of fund/CoF). Agus mengungkapkan suku bunga deposito pada lelang dana antarbank sempat mencapai 11,5 persen, mencerminkan semakin ketatnya persaingan dalam penghimpunan dana.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut bank untuk mengelola struktur pendanaan secara lebih efisien sekaligus menjaga profitabilitas di tengah tekanan margin.

Sebagai bank pembangunan daerah yang mayoritas sahamnya dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bank Jakarta memfokuskan strategi pertumbuhan pada penguatan ekosistem layanan keuangan pemerintah daerah.

Perusahaan melihat besarnya perputaran anggaran di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai peluang untuk membangun pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan melalui integrasi layanan perbankan, digitalisasi transaksi, dan optimalisasi pengelolaan kas daerah.

Di saat yang sama, Bank Jakarta juga mempercepat transformasi digital melalui modernisasi infrastruktur teknologi informasi, pengembangan layanan digital, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia agar mampu menjawab kebutuhan nasabah yang semakin terdigitalisasi.

Agus menilai profil risiko industri perbankan juga mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya risiko kredit menjadi perhatian utama, kini bank juga harus mengantisipasi risiko operasional, keamanan siber, hingga risiko teknologi yang berkembang seiring digitalisasi sektor keuangan.

“Risiko ke depan akan semakin multidimensi,” ujarnya.

Karena itu, penguatan tata kelola perusahaan (good corporate governance) dan sistem manajemen risiko menjadi bagian penting dalam strategi jangka panjang perusahaan.

Dalam forum yang sama, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffry Hendrik, menilai pengembangan pasar modal nasional tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan jumlah investor, tetapi juga harus dibarengi peningkatan kualitas investor domestik.

Menurutnya, bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO), BEI terus memperkuat transparansi pasar melalui peningkatan kualitas keterbukaan informasi, penyediaan data investor yang lebih granular, serta pendalaman pasar modal.

“Kami yakin dengan transparansi yang lebih baik, tentu akan ada kepercayaan yang lebih tinggi,” kata Jeffry.

Ia mengungkapkan jumlah investor domestik kini telah melampaui 28 juta. Namun, peningkatan kuantitas tersebut harus diikuti oleh penguatan literasi keuangan agar investor mampu mengambil keputusan investasi berdasarkan analisis fundamental, bukan sekadar mengikuti tren pasar.

“Mampu melakukan analisis, tidak hanya ikut-ikutan apa kata influencer, tidak FOMO,” ujarnya.

Agus menegaskan strategi Bank Jakarta ke depan tidak semata mengejar ekspansi aset maupun kredit, melainkan mengedepankan pertumbuhan yang sehat, berkualitas, dan berkelanjutan.

Menurutnya, kualitas portofolio, penguatan digitalisasi, efisiensi operasional, serta penerapan manajemen risiko akan menjadi fondasi utama perusahaan dalam menghadapi dinamika industri keuangan nasional.

“Kita tidak kejar-kejaran mencari pertumbuhan besar, tetapi yang kita kejar adalah pertumbuhan yang sehat dan berkualitas,” tegasnya.

Pelaku industri menilai transformasi digital, peningkatan tata kelola, penguatan ketahanan siber, serta peningkatan kualitas investor akan menjadi faktor strategis dalam menjaga daya saing sektor jasa keuangan Indonesia di tengah perubahan ekonomi global yang semakin cepat. (ris)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Binomedia.id


RELATED ARTICLES

Most Popular