binomedia.id – Jakarta. Membaca bagi anak bukan sekadar tentang mengenal kata dan memahami kalimat. Dari sebuah buku, anak dapat menemukan cerita, mengenal berbagai sudut pandang, membangun imajinasi, sekaligus perlahan memahami dunia di sekitarnya.
Karena itu, ketika akses terhadap bacaan masih menjadi tantangan bagi sebagian anak Indonesia, upaya untuk menghadirkan bahan bacaan yang dekat, menarik, dan mudah dijangkau menjadi bagian penting dari perjalanan membangun budaya literasi.
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan skor membaca Indonesia mencapai 365 poin, meningkat tujuh poin dibandingkan 2022. Meski demikian, OECD mencatat peningkatan tersebut belum signifikan secara statistik. Hanya sekitar 27 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun yang mencapai Level 2 atau lebih dalam kecakapan membaca.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa kemampuan membaca dan memahami bacaan membutuhkan proses yang panjang. Kebiasaan membaca tidak tumbuh dalam semalam, melainkan perlahan melalui kesempatan untuk membaca, lingkungan yang mendukung, serta akses terhadap bahan bacaan yang sesuai dengan usia anak.
Selama lebih dari 16 tahun, Majalah Cahaya Inspirasi Anak (CIA) hadir sebagai salah satu ruang baca bagi anak-anak sekolah dasar kelas 3–6. Sementara itu, Majalah Imajinatif Seru Orisinal (ISO) menyapa anak-anak usia TK hingga kelas 2 SD. Keduanya tidak hanya menghadirkan bacaan, tetapi juga berbagai aktivitas edukatif yang mengajak anak, guru, sekolah, dan orang tua untuk tumbuh bersama dalam ekosistem literasi.
Sejak 2024, CIA dan ISO dipercaya menjadi mitra Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam mendukung penguatan literasi pada jenjang PAUD dan SD. Komitmen tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai gerakan, salah satunya Hak Baca Anak (HBA) yang mendorong pemenuhan hak dasar anak untuk mendapatkan bahan bacaan.
Sementara melalui program Buku Untuk Semua (BUS) yang diinisiasi Yayasan Cahaya Astra Literatus, akses bacaan juga diupayakan menjangkau anak-anak di wilayah yang memiliki keterbatasan akses, termasuk daerah 3T.
Hingga saat ini, Majalah CIA telah menjangkau lebih dari 10 juta pembaca anak dan hadir di berbagai sekolah sebagai bahan bacaan sekaligus bagian dari kegiatan pengayaan literasi.
Dari Membaca, Tumbuh Kepedulian
Semangat memperluas akses bacaan tersebut kembali hadir melalui CIA Fest 2026, yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ketiga. Digelar pada 2–4 Oktober 2026 di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, festival literasi anak ini mengangkat tema “SUMATRA: Dari Anak untuk Anak”.
Tema tersebut memberikan perhatian khusus kepada anak-anak di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara yang terdampak bencana pada akhir 2025.
Di balik kondisi darurat yang telah berlalu, masih ada perjalanan panjang untuk memulihkan aktivitas belajar anak. Berakhirnya masa tanggap darurat tidak selalu berarti seluruh kebutuhan anak telah kembali seperti semula.
Ketika sekolah mulai berjalan kembali, buku dan bahan bacaan tetap menjadi bagian dari proses belajar. Dari sanalah CIA Fest tahun ini membawa persoalan tersebut ke dalam sebuah ruang yang dekat dengan dunia anak: bermain, membaca, berkarya, dan berbagi.
Dana yang terkumpul melalui rangkaian kegiatan CIA Fest 2026 nantinya akan dihimpun untuk menghadirkan Majalah CIA dan ISO bagi anak-anak di wilayah terdampak bencana.
Semangat berbagi juga hadir melalui Bazar Buku Rakyat (BBR) hasil kolaborasi dengan Taka Library. Ribuan buku anak dan keluarga tersedia dengan harga terjangkau, sehingga semakin banyak keluarga memiliki kesempatan untuk membawa pulang bacaan.
Anak Juga Bisa Berbuat Sesuatu
Yang menarik, CIA Fest tidak menempatkan anak hanya sebagai penerima manfaat. Anak-anak juga diajak untuk mengambil bagian dan menunjukkan bahwa kepedulian dapat dimulai dari hal-hal sederhana.
Melalui kegiatan Poster Dari Anak untuk Anak, sekitar 200 anak dari sekolah umum dan 100 anak dari Sekolah Luar Biasa (SLB) membuat karya sebagai bentuk perhatian kepada anak-anak yang terdampak bencana di Sumatra. Karya-karya tersebut kemudian akan dilelang untuk mendukung pengumpulan donasi.
Didukung oleh Indomilk Kids, kegiatan ini menjadi ruang bagi anak untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus belajar bahwa karya yang mereka buat dapat membawa manfaat bagi orang lain.
Pesan serupa juga terasa dalam berbagai kegiatan lain yang hadir sepanjang festival. Mulai dari belasan perlombaan dan aktivitas literasi, Lomba Debat, hingga Piknik Hanya Untuk Guru yang mempertemukan sekitar 300 guru dari wilayah Jabodetabek.
Sekitar 500 anak PAUD dari komunitas di kawasan kampung nelayan Angke, Marunda, dan Cilincing juga ikut menikmati rangkaian kegiatan CIA Fest.
Pada pembukaan festival, dukungan terhadap kebutuhan belajar anak terdampak bencana turut diwujudkan melalui penyerahan 30.000 buku tulis. Buku-buku tersebut akan disalurkan ke wilayah terdampak melalui Dinas Pendidikan setempat. Secara simbolis, donasi diserahkan kepada perwakilan Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
Dukungan tersebut diberikan oleh SiDU sebagai bagian dari kontribusi terhadap kebutuhan perlengkapan belajar anak-anak di wilayah terdampak.
Membuat Membaca Terasa Dekat dan Menyenangkan
Kehadiran Endang Nugrahani, Bunda Literasi dan Bunda PAUD DKI Jakarta, dalam pembukaan CIA Fest 2026 turut memperkuat pesan bahwa budaya membaca perlu dibangun bersama sejak usia dini.
“Sebagai Bunda Literasi dan Bunda PAUD Provinsi DKI Jakarta, saya mengajak para orang tua dan guru untuk terus memberikan ruang bagi anak-anak agar membaca, bercerita, bertanya, berimajinasi, dan berkarya. Jangan sampai membaca hanya dipandang sebagai kewajiban dan tugas sekolah semata. Mari kita jadikan membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan dan dekat dengan keseharian anak-anak,” ujarnya.
Pesan tersebut terasa semakin relevan ketika anak-anak hari ini tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan informasi yang begitu cepat. Ruang untuk beraktivitas secara positif di luar ruangan menjadi semakin penting.
Karena itu, selama tiga hari penyelenggaraannya, CIA Fest menghadirkan berbagai kegiatan yang memungkinkan anak menikmati waktu di luar ruangan sambil membaca, bermain, berkreasi, dan bertemu dengan teman-teman baru.
Bagi Stefanie Augustin, Pendiri Majalah CIA, keberlanjutan pendidikan anak perlu tetap mendapat perhatian, termasuk ketika situasi darurat telah berakhir.
“Ketika anak-anak terdampak bencana kehilangan sebagian akses belajarnya, memastikan mereka tetap memiliki bacaan adalah salah satu bentuk nyata dari kepedulian kita terhadap keberlanjutan pendidikan mereka. Melalui CIA Fest, kami ingin menunjukkan bahwa anak pun dapat mengambil peran untuk membantu anak lainnya,” ujarnya.
Menyalakan Literasi, Menumbuhkan Harapan
Lebih dari sekadar festival, CIA Fest 2026 menjadi ruang untuk menumbuhkan karakter Generasi Adiwangsa yang diprakarsai Majalah CIA—generasi yang cerdas, memiliki integritas, dan siap melakukan aksi nyata yang bermakna.
Nilai tersebut dibangun melalui empat hal sederhana namun penting: Perhatian terhadap lingkungan dan sesama, Pengetahuan mengenai persoalan dan dampaknya, Pendirian untuk menentukan sikap dan mengambil bagian dalam perubahan, serta Peran untuk berani beraksi bagi sesama dan lingkungan.
Pada akhirnya, literasi bukan hanya tentang seberapa banyak buku yang dibaca seorang anak. Literasi juga tentang bagaimana sebuah cerita dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, bagaimana pengetahuan melahirkan kepedulian, dan bagaimana kepedulian kemudian mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
CIA Fest 2026 masih berlangsung hingga Minggu, 4 Oktober 2026, di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
Di awal bulan literasi ini, anak-anak diajak menikmati berbagai kegiatan yang seru, menyenangkan, sekaligus memiliki makna. Dari ruang terbuka di tengah Jakarta, sebuah harapan sederhana kembali dinyalakan: agar setiap anak memiliki kesempatan untuk membaca, belajar, berimajinasi, dan tumbuh melalui cerita. Sebab pada akhirnya, memberikan sebuah buku kepada seorang anak bukan hanya tentang memberikan bacaan. Bisa jadi, kita sedang membuka sebuah jendela kecil menuju dunia yang lebih luas. Dan semoga, semakin banyak jendela yang terbuka, semakin dekat pula harapan agar tidak ada lagi anak Indonesia yang kekurangan akses terhadap bacaan. (rls)
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Binomedia.id