binomedia.id – Jakarta. Peluang untuk memperoleh pengalaman pendidikan bertaraf internasional semakin terbuka bagi mahasiswa Indonesia. Hubungan kerja sama antara Indonesia dan Uni Eropa (EU) di bidang pendidikan tinggi terus berkembang melalui berbagai program pertukaran akademik, penyediaan beasiswa, hingga kemitraan ant perguruan tinggi.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan edisi ke-18 European Higher Education Fair (EHEF) 2026. Pameran pendidikan tinggi tahunan yang diselenggarakan Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia ini menjadi ruang bagi calon mahasiswa untuk mengenal lebih dekat berbagai pilihan studi, program beasiswa, serta peluang pengembangan akademik di negara-negara Eropa.
Setelah sebelumnya berlangsung di Yogyakarta pada 4 November 2026 dengan menarik lebih dari 5.000 pengunjung, EHEF 2026 kembali digelar di Jakarta pada 7–8 November 2026, bertempat di Catur Dharma Hall, Menara Astra.
Tahun ini, sebanyak 92 institusi pendidikan tinggi dari 14 negara anggota Uni Eropa turut berpartisipasi. Pameran tersebut juga menghadirkan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan program Beasiswa Garuda sebagai bagian dari informasi mengenai dukungan pembiayaan pendidikan yang disediakan pemerintah Indonesia. Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan besarnya perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia melalui akses pendidikan yang lebih luas dan pengalaman akademik lintas negara.
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Dr. Beny Bandanadjaja, menyampaikan bahwa kolaborasi pendidikan tinggi antara Indonesia dan Eropa memiliki peran penting dalam memperluas kesempatan belajar sekaligus membangun wawasan global generasi muda.
Menurutnya, kerja sama akademik tersebut dapat memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman internasional, memperluas perspektif, serta membangun jaringan yang bermanfaat bagi pengembangan karier dan keilmuan. “Kolaborasi pendidikan tinggi antara Indonesia dan Eropa memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman akademik internasional, memperluas wawasan, dan membangun jejaring,” ujar Dr. Beny Bandanadjaja.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Hervé Delphin, juga menegaskan bahwa pendidikan tinggi menjadi salah satu bidang penting dalam hubungan kemitraan Indonesia dan Uni Eropa. Melalui strategi Global Gateway, Uni Eropa berupaya memperkuat investasi pada pengembangan sumber daya manusia, peningkatan keterampilan, penelitian, dan inovasi. Pendekatan ini diharapkan dapat membangun hubungan kerja sama yang saling menguntungkan serta berkelanjutan.
Setiap tahun, Uni Eropa bersama negara-negara anggotanya menyediakan lebih dari 1.000 beasiswa bagi mahasiswa Indonesia. Sementara itu, pada 2025, tercatat lebih dari 10.000 warga Indonesia sedang menjalani studi maupun kegiatan penelitian di berbagai negara anggota Uni Eropa. Menurut Hervé Delphin, EHEF menjadi kesempatan bagi calon mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan perwakilan universitas Eropa sekaligus mendapatkan informasi mengenai program studi dan peluang beasiswa yang tersedia.
Erasmus+ Perkuat Pertukaran Akademik Indonesia dan Eropa
Selain melalui pameran pendidikan, hubungan akademik Indonesia dan Uni Eropa juga diperkuat melalui program Erasmus+ yang didanai Uni Eropa. Sejak 2021, program ini telah memfasilitasi berbagai kegiatan mobilitas mahasiswa dan staf universitas, pertukaran akademik, serta kerja sama antarlembaga pendidikan tinggi.
Hingga saat ini, Erasmus+ telah mendukung mobilitas 1.089 mahasiswa dan staf universitas dari Indonesia ke Eropa. Di sisi lain, sebanyak 1.182 akademisi dari Uni Eropa juga memperoleh kesempatan untuk melakukan mobilitas ke Indonesia. Dukungan terhadap pendidikan internasional turut diwujudkan melalui Erasmus Mundus Joint Masters (EMJM), yang telah memberikan 377 beasiswa kepada mahasiswa Indonesia. Program Erasmus+ sendiri menargetkan dapat menarik setidaknya 350.000 mahasiswa dari luar Uni Eropa hingga 2030, sebagaimana tercantum dalam dokumen Communication on Union of Skills.
Hervé Delphin menilai pendidikan memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar proses memperoleh pengetahuan. Akses terhadap keterampilan dan pendidikan yang berkualitas dapat membantu masyarakat memanfaatkan peluang kerja, mengembangkan inovasi, serta berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja. Dengan demikian, pendidikan menjadi salah satu fondasi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, kewirausahaan, dan pembangunan berkelanjutan. Ia juga menekankan bahwa hubungan pendidikan Indonesia dan Eropa merupakan proses pertukaran dua arah yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Sepuluh Universitas Indonesia Perkuat Kemitraan dengan Uni Eropa
Kerja sama Indonesia dan Uni Eropa tidak hanya berlangsung melalui pertukaran mahasiswa dan akademisi, tetapi juga berkembang pada tingkat kelembagaan. Sejauh ini, perguruan tinggi Indonesia telah terlibat dalam 19 program Erasmus Mundus Joint Masters dan 20 proyek penguatan kapasitas. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pertukaran pengetahuan dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Sebagai langkah lanjutan, Uni Eropa memperkenalkan EU-Indonesia Network of University Partners (EUnUP), sebuah jaringan kemitraan yang saat ini melibatkan 10 universitas di Indonesia.
Kesepuluh perguruan tinggi tersebut meliputi Universitas Indonesia (UI), Universitas Bina Nusantara (BINUS), Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Universitas Parahyangan (UNPAR), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Hasanuddin (UNHAS), dan Universitas Nusa Cendana (UNDANA).
Melalui jaringan ini, universitas-universitas anggota didorong untuk memperkaya materi pembelajaran dan mengembangkan program akademik yang berkaitan dengan berbagai isu Eropa maupun tantangan global. Beberapa bidang yang menjadi perhatian mencakup tata kelola Uni Eropa, transisi hijau, transformasi digital, tata kelola kecerdasan buatan (AI), komunikasi, perdagangan, keamanan siber, ketahanan demokrasi, kesetaraan gender, hingga hak asasi manusia.
Kolaborasi tersebut juga memiliki keterkaitan dengan komitmen bersama terhadap Agenda 2030 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk upaya mendorong kesetaraan gender melalui Sustainable Development Goals (SDG) 5. Untuk mendukung pelaksanaannya, EUnUP telah menyusun peta jalan kerja sama periode 2026–2030. Saat ini, jaringan tersebut juga tengah mempersiapkan sejumlah modul pendidikan yang mencakup silabus, metodologi, dan materi pengajaran agar dapat disesuaikan dengan program studi di masing-masing universitas.
Tidak hanya berfokus pada pengembangan kurikulum, kemitraan ini juga membuka ruang bagi peningkatan kolaborasi penelitian, transfer pengetahuan, serta perluasan mobilitas mahasiswa yang dapat diakui dalam kredit akademik, baik dari Indonesia ke Eropa maupun sebaliknya. Ke depan, universitas-universitas yang tergabung dalam jaringan EUnUP diharapkan dapat mengambil peran lebih besar dalam menyediakan masukan berbasis data untuk mendukung dialog kebijakan antara Uni Eropa dan Indonesia.
Hervé Delphin berharap kemitraan tersebut dapat terus berkembang melalui keterlibatan aktif perguruan tinggi dan komunitas akademik dari kedua kawasan. Menurutnya, penguatan akses dan kualitas pendidikan tinggi tidak hanya menjadi sarana untuk saling memahami Indonesia dan Eropa, tetapi juga membuka kesempatan untuk bersama-sama merespons berbagai tantangan global.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, hubungan pendidikan Indonesia dan Eropa diharapkan semakin memberikan manfaat nyata, baik bagi mahasiswa, akademisi, maupun institusi pendidikan tinggi. Lebih dari sekadar membuka kesempatan belajar di luar negeri, kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki wawasan luas, keterampilan relevan, dan kemampuan beradaptasi di tengah perubahan dunia. (rls)