BerandaBisnisInvestasi Data Center Indonesia Tembus US$20 Miliar, Ini Tantangannya

Investasi Data Center Indonesia Tembus US$20 Miliar, Ini Tantangannya

Binomedia.id, JAKARTA – Indonesia mulai memperkuat posisi dalam persaingan pembangunan pusat data (data center) di Asia Tenggara. Minat investasi hingga US$20 miliar membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas kapasitas komputasi, seiring meningkatnya kebutuhan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) dan pertumbuhan ekonomi digital.

Pusat data kini menjadi infrastruktur strategis yang tidak hanya berfungsi menyimpan informasi, tetapi juga mendukung pengolahan data, pengembangan teknologi, dan penciptaan nilai tambah ekonomi. Ketersediaan infrastruktur ini turut menentukan kemampuan suatu negara dalam memanfaatkan perkembangan ekonomi digital.

Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan industri tersebut. Sebagai salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mendekati US$100 miliar pada 2025.

Besarnya aktivitas digital, mulai dari transaksi perbankan, perdagangan elektronik, hingga layanan berbasis teknologi, mendorong peningkatan kebutuhan kapasitas komputasi. Kebutuhan tersebut semakin besar seiring perkembangan AI yang memerlukan daya pemrosesan lebih tinggi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pembangunan infrastruktur digital, termasuk pusat data, memiliki peran penting dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional.

“Indonesia ingin tumbuh lebih dari 8 persen dan salah satu pengungkitnya adalah digital economy. Dan kuncinya adalah tentunya AI, dan AI itu akan ada kalau infrastrukturnya data centernya baik,” ujar Airlangga.

Sementara itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi teknologi digital dan AI. Penguatan infrastruktur komputasi diperlukan agar Indonesia dapat mengambil posisi strategis dalam rantai nilai industri teknologi global.

“Kita tidak ingin hanya menjadi pasar atau pengguna. Kita ingin memperoleh posisi strategis dalam rantai nilai industri AI global,” kata Nezar.

Minat Investasi Pusat Data Capai US$20 Miliar

Peluang tersebut mulai tercermin dari besarnya minat investasi yang masuk ke sektor pusat data. Pemerintah mencatat terdapat potensi tambahan investasi untuk kapasitas pusat data sekitar 1,3 gigawatt (GW) di Indonesia, dengan nilai mencapai US$15 miliar hingga US$20 miliar.

Sebagai gambaran, setiap tambahan kapasitas 100 megawatt (MW) diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$1,2 miliar hingga US$1,5 miliar.

Investasi tersebut berpotensi memberikan dampak ekonomi yang meluas. Selain pembangunan fasilitas, kebutuhan pusat data juga mendorong aktivitas sektor konstruksi, energi, telekomunikasi, teknologi, pemeliharaan, hingga penyediaan tenaga kerja berketerampilan khusus.

Kehadiran proyek-proyek baru juga membuka peluang bagi perusahaan lokal untuk masuk dalam rantai pasok industri, mulai dari penyediaan perangkat pendukung hingga layanan operasional dan keamanan sistem.

Dengan demikian, manfaat ekonomi pusat data tidak hanya berasal dari nilai investasi awal, tetapi juga dari aktivitas bisnis turunan, penciptaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan pengembangan industri teknologi dalam negeri.

Pengalaman negara lain memberikan gambaran mengenai potensi tersebut. Di Chile, investasi Amazon Web Services (AWS) lebih dari US$4 miliar untuk pembangunan tiga pusat data diperkirakan menghasilkan kontribusi sekitar US$10 miliar terhadap produk domestik bruto (PDB) serta mendukung lebih dari 7.000 lapangan kerja penuh waktu setiap tahun.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa dampak investasi pusat data dapat melampaui pembangunan infrastruktur apabila didukung keterlibatan industri lokal, pengembangan kompetensi tenaga kerja, dan pertumbuhan ekosistem digital.

Kapasitas Indonesia Masih di Bawah Malaysia

Meski memiliki pasar digital yang besar, Indonesia masih menghadapi persaingan ketat dalam pembangunan pusat data di Asia Tenggara.

Data Bank Dunia pada semester I-2025 mencatat kapasitas pusat data Indonesia sekitar 1,17 GW. Angka tersebut masih berada di bawah Malaysia yang mencapai 3,17 GW dan Singapura sekitar 1,25 GW.

Namun, prospek pertumbuhan Indonesia dinilai masih terbuka. CSIS Indonesia memperkirakan kapasitas pusat data nasional dapat tumbuh rata-rata 16,8% per tahun hingga 2029, sehingga mencapai sekitar 1,41 GW.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh besarnya pasar digital domestik, meningkatnya kebutuhan layanan komputasi awan (cloud computing) dan AI, serta masuknya investasi baru di sektor infrastruktur digital.

Ketersediaan pusat data juga menjadi fondasi bagi berbagai layanan digital, seperti teknologi finansial (fintech), perdagangan elektronik (e-commerce), keamanan siber, layanan pemerintahan digital, dan pengembangan aplikasi berbasis AI.

Meski demikian, peningkatan kapasitas infrastruktur belum otomatis menjadikan Indonesia pemain utama dalam ekonomi AI. Kemampuan menghasilkan teknologi, mengembangkan produk digital, mengolah data, dan menciptakan layanan bernilai tambah tetap menjadi faktor penting.

Kebutuhan Energi dan Air Jadi Tantangan

Di balik peluang investasi yang besar, pembangunan pusat data menghadapi tantangan terkait kebutuhan energi dan air. Fasilitas ini membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar untuk menjalankan server, sistem pendingin, dan berbagai perangkat pendukung operasional.

Kebutuhan energi berpotensi meningkat seiring berkembangnya AI yang memerlukan kapasitas pemrosesan tinggi. Selain listrik, penggunaan air untuk sistem pendingin juga perlu diperhitungkan, terutama pada fasilitas yang menggunakan teknologi pendinginan berbasis air.

Peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Reini D. Wirahadikusumah mengatakan kebutuhan energi akan menjadi aspek penting dalam perkembangan AI.

“Energi dan teknologi Artificial Intelligence (AI) akan menjadi pilar penting dalam pembangunan. Bahkan AI sendiri membutuhkan energi yang sangat besar untuk dioperasikan,” ujarnya.

Karena itu, ekspansi pusat data perlu disertai perencanaan pasokan energi yang memadai, efisiensi operasional, dan pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.

Pengembangan energi terbarukan juga berpotensi menjadi bagian dari strategi untuk memenuhi kebutuhan listrik sekaligus menekan dampak lingkungan dari pertumbuhan industri pusat data.

Mengejar Nilai Tambah Ekonomi Digital

Indonesia memiliki sejumlah modal untuk memperkuat posisi dalam industri pusat data dan AI, mulai dari besarnya pasar digital, peningkatan kebutuhan komputasi, hingga potensi pengembangan sumber energi.

Tantangan berikutnya adalah memastikan investasi yang masuk tidak berhenti pada pembangunan gedung dan fasilitas server. Pemerintah dan pelaku industri perlu mendorong agar pengembangan pusat data memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian nasional.

Langkah tersebut dapat dilakukan melalui penguatan tenaga kerja digital, pengembangan perusahaan teknologi lokal, peningkatan kemampuan riset dan AI, pemanfaatan energi terbarukan, serta penguatan industri pendukung.

Dengan strategi tersebut, pembangunan pusat data dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya saing ekonomi digital Indonesia. Tujuannya bukan sekadar memperbesar kapasitas komputasi, melainkan juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai teknologi dan AI global. (ris)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Binomedia.id


RELATED ARTICLES

Most Popular