Binomedia,Pamulang — Persoalan sengketa lahan yang melibatkan Yayasan Syarif Hidayatullah (YSH) dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta turut menjadi perhatian orang tua murid Sekolah Islam Pembangunan (SIP) Pamulang.
Bagi para orang tua, persoalan utama bukan sekadar mengenai sengketa lahan, melainkan bagaimana memastikan lingkungan sekolah tetap menjadi ruang yang aman, nyaman, dan kondusif bagi anak-anak untuk belajar.
Kekhawatiran itu muncul setelah terjadi penggerudukan oleh massa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ke lingkungan SIP pada Sabtu, 22 Agustus 2026 sekitar pukul 02.00 dini hari. Menurut perwakilan Orang Tua Murid (OTM), Bryan Wiryo Sentono, massa berada di area sekolah selama hampir 20 jam dan sempat membangun pagar kawat di depan sekolah.
Situasi tersebut membuat orang tua mempertanyakan keamanan lingkungan pendidikan. Kekhawatiran semakin besar setelah OTM menemukan sejumlah barang yang disebut sebagai sisa aktivitas massa di beberapa ruang sekolah, antara lain puntung rokok, kartu yang diduga digunakan untuk permainan gaple, serta sobekan ikat uang dengan nominal yang tertera mencapai sekitar Rp10 juta. Temuan itu telah didokumentasikan dan diminta untuk dijelaskan lebih lanjut oleh pihak terkait.
Bagi orang tua, ruang kelas seharusnya tetap menjadi tempat anak-anak belajar dan berkembang. Karena itu, mereka berharap seluruh pihak yang berada di lingkungan sekolah dapat menjaga norma, kebersihan, ketertiban, serta menghormati fungsi sekolah sebagai ruang pendidikan yang ramah anak.
OTM juga menyoroti pencopotan perangkat atau server CCTV dan jaringan sekolah. Perangkat tersebut dinilai penting, bukan hanya untuk mendukung kegiatan pembelajaran daring, tetapi juga sebagai bagian dari sistem pengawasan keamanan sekolah.
Orang Tua Berharap Konflik Tidak Menyentuh Anak
Di tengah persoalan yang masih berlangsung, para orang tua berharap sengketa antara YSH dan UIN Jakarta dapat diselesaikan melalui jalur hukum tanpa membawa dampak terhadap peserta didik.
“Kami tidak ingin anak-anak kami menjadi korban dari persoalan yang bukan mereka buat. Kalau ada sengketa, silakan diselesaikan melalui jalur hukum atau mekanisme yang berlaku,” ujar Bryan.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. OTM menyebut sebelumnya juga pernah terjadi kericuhan pada 4 Juni 2026 ketika kegiatan belajar-mengajar sedang berlangsung. Dalam peristiwa itu, massa dalam jumlah besar datang ke sekolah hingga terjadi aksi dorong-mendorong dan pagar sekolah dilaporkan roboh.
Pengalaman tersebut meninggalkan kesan bagi sejumlah siswa. Herna, salah satu orang tua murid, mengungkapkan bahwa anak-anak sempat tertahan di sekitar gerbang ketika situasi mulai ricuh. Bahkan, menurutnya, rasa takut masih terbawa hingga setelah mereka berada di rumah.
Bagi orang tua, pengalaman itu memperlihatkan bahwa dampak konflik di lingkungan sekolah tidak hanya menyangkut keamanan fisik. Rasa aman dan kenyamanan psikologis anak juga menjadi perhatian penting.
Minta Jaminan Keamanan
OTM menyebut telah melaporkan Rektor UIN kepada Ombudsman Republik Indonesia pada Juni lalu. Mereka juga meminta kepolisian memberikan jaminan keamanan agar kegiatan pendidikan di SIP dapat berlangsung tanpa gangguan.
Para orang tua berharap semua pihak dapat menahan diri dan mengedepankan mekanisme hukum dalam menyelesaikan persoalan yang ada. Mereka ingin sekolah kembali menjadi tempat yang tenang, tempat anak-anak dapat belajar tanpa harus berhadapan dengan konflik orang dewasa.(dhil)
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Binomedia.id