BerandaMovieJuminten Edan" Angkat Drama Keluarga dan Teror Psikologis, Tayang di Bioskop Mulai...

Juminten Edan” Angkat Drama Keluarga dan Teror Psikologis, Tayang di Bioskop Mulai 23 Juli 2026

Binomedia.id, JAKARTA – Mercusuar Films bersama Digital Frame Production menghadirkan film thriller-horor terbaru berjudul Juminten Edan yang dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 23 Juli 2026. Film garapan sutradara Dedy Mercy dan Jonathan Ozoh ini mengusung kisah drama keluarga yang dipadukan dengan teror psikologis, dengan karakter utama seorang perempuan penyandang disabilitas wicara dan hambatan pendengaran.

Dalam press screening dan konferensi pers di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Kamis (16/7/2026), sutradara Dedy Mercy menjelaskan bahwa Juminten Edan tidak hanya mengandalkan unsur horor, tetapi juga mengangkat konflik keluarga yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

“Secara klasifikasi memang drama horor, tetapi sebenarnya film ini lebih tepat disebut psychological thriller. Unsur dramanya kami bangun lebih dulu agar penonton memahami setiap karakter sebelum memasuki teror yang sesungguhnya,” ujar Dedy.

Film yang ditulis Alim Sudio ini mengisahkan Juminten, diperankan Meisya Amira, yang pulang ke kampung halamannya bersama sang suami, Manto (Dimas Aditya), dan anak mereka setelah delapan tahun merantau. Kepulangan yang awalnya disambut hangat oleh keluarga perlahan berubah menjadi mencekam ketika Juminten mulai menunjukkan perilaku yang tidak biasa hingga mengancam orang-orang terdekatnya.

Menurut Alim Sudio, ide cerita berkembang dari judul Juminten Edan yang dinilainya unik. Bersama Dedy Mercy, ia kemudian mengeksplorasi tema tentang batas tipis antara kewarasan dan kegilaan.

“Terkadang orang yang dianggap waras justru melakukan kegilaan, sementara yang dianggap gila justru memiliki sisi kemanusiaan yang lebih besar. Itu yang ingin kami eksplorasi,” kata Alim.

Meisya Amira mengaku menghadapi tantangan besar dalam memerankan Juminten. Untuk mendalami karakter, ia mempelajari bahasa isyarat selama dua minggu serta mengandalkan ekspresi wajah, tatapan mata, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan emosi tanpa dialog.

Sementara itu, Dimas Aditya mengatakan seluruh pemain menjalani sesi reading dan workshop intensif guna membangun chemistry antarpemeran. Ia juga menyebut proses syuting di lokasi-lokasi yang masih alami menjadi pengalaman tersendiri selama produksi berlangsung.

Menjelang akhir cerita, Juminten Edan menghadirkan adegan aksi sebagai puncak konflik. Dedy Mercy menjelaskan adegan tersebut menjadi konsekuensi dari perkembangan karakter Juminten sebagai seorang ibu yang rela melakukan apa saja demi melindungi anaknya.

Melalui film ini, Mercusuar Films berharap Juminten Edan* tidak hanya menghadirkan ketegangan khas film horor, tetapi juga menyajikan drama keluarga yang emosional dengan sentuhan psychological thriller yang kuat bagi penonton Indonesia.(dhil)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Binomedia.id


RELATED ARTICLES

Most Popular