BerandaBisnisPasar Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Kenaikan Suku Bunga BI

Pasar Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Kenaikan Suku Bunga BI

Binomedia.id, JAKARTA – Penguatan pasar keuangan Indonesia dalam sepekan terakhir dinilai menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional. Meski demikian, di tengah meningkatnya optimisme investor, Bank Indonesia (BI) dinilai tetap perlu menjaga kredibilitas kebijakan moneter melalui kepastian arah suku bunga acuan ke depan.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengatakan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah menunjukkan meningkatnya kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan tantangan eksternal maupun kebutuhan menjaga arus masuk modal asing.

Dalam sepekan terakhir, IHSG menjadi salah satu bursa saham dengan kinerja terbaik di kawasan Asia, sementara rupiah mencatat penguatan yang lebih baik dibandingkan sebagian besar mata uang regional. Sentimen positif tersebut turut ditopang oleh keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level investment grade BBB dengan prospek stabil.

“Pasar memang menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan dalam satu minggu terakhir. Namun kebutuhan Indonesia untuk menarik arus modal asing tahun ini masih sangat besar. Karena itu, momentum positif ini justru perlu diperkuat melalui kebijakan yang konsisten dan kredibel,” ujar Fakhrul dalam keterangannya, Jumat (24/7/2026).

Menurut Fakhrul, Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal asing sekitar US$11 miliar hingga akhir 2026 untuk menjaga keseimbangan neraca pembayaran sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

Karena itu, ia memperkirakan Bank Indonesia masih perlu menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026.

Ia menilai langkah tersebut bukan semata-mata sebagai respons terhadap kondisi pasar, melainkan untuk menjaga konsistensi komunikasi kebijakan yang sebelumnya telah disampaikan bank sentral.

“Menurut kami, Bank Indonesia masih perlu melanjutkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada RDG Juli. Kredibilitas bank sentral dibangun ketika komunikasi tersebut diikuti oleh implementasi kebijakan,” katanya.

Meski mendukung kenaikan suku bunga, Fakhrul menilai perhatian utama pelaku pasar saat ini bukan lagi besaran kenaikan, melainkan kepastian mengenai arah kebijakan moneter atau expectation guidance.

Menurutnya, kepastian mengenai posisi puncak siklus pengetatan suku bunga akan membantu membentuk ekspektasi pasar yang lebih stabil sekaligus mengurangi tekanan terhadap sektor keuangan.

“Pasar saat ini membutuhkan kepastian mengenai di mana puncak siklus pengetatan moneter berada. Yang dibutuhkan bukan hanya kenaikan suku bunga, tetapi juga expectation guidance bahwa siklus pengetatan sudah mendekati akhir,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tanpa kejelasan tersebut, transmisi kebijakan moneter berpotensi terus mendorong kenaikan suku bunga simpanan dan biaya pendanaan perbankan, sehingga memperpanjang tekanan terhadap likuiditas.

Sebaliknya, apabila BI memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga pada Juli menjadi tahap akhir atau mendekati akhir dari siklus pengetatan, pelaku pasar akan lebih cepat menyesuaikan ekspektasi sehingga kondisi likuiditas dan biaya dana perbankan dapat kembali normal secara bertahap.

Fakhrul menilai komunikasi bank sentral kini memiliki peran yang sama pentingnya dengan kebijakan suku bunga itu sendiri. Kejelasan arah kebijakan akan mempercepat proses penyesuaian di pasar uang, pasar obligasi, hingga sektor perbankan.

“Expectation guidance saat ini menjadi sama pentingnya dengan policy rate. Ketika pasar memahami arah kebijakan BI ke depan, proses penyesuaian di pasar uang, pasar obligasi, hingga sektor perbankan akan berlangsung lebih cepat dan lebih efisien,” katanya.

Ia menambahkan, keberhasilan kebijakan moneter ke depan tidak hanya diukur dari kemampuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, tetapi juga dari keberhasilan mengelola proses normalisasi likuiditas tanpa mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

“Tujuan akhirnya bukan sekadar menaikkan suku bunga. Tujuannya adalah membawa pasar kembali ke kondisi yang lebih netral, menjaga kepercayaan investor, dan memastikan proses normalisasi likuiditas dapat berlangsung secara terukur tanpa mengganggu momentum pemulihan ekonomi,” pungkas Fakhrul. (ris)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Binomedia.id


RELATED ARTICLES

Most Popular