Binomedia.id, Jakarta – Inovasi berbasis sains tidak lagi menjadi ranah mahasiswa atau peneliti profesional. Sejumlah siswa SMA dari berbagai daerah di Indonesia membuktikan bahwa mereka juga mampu melahirkan gagasan yang menjawab persoalan nyata di masyarakat melalui ajang i3L Competition Series (iCS) 2026 yang diselenggarakan oleh i3L University.
Kompetisi tingkat nasional tersebut menjadi panggung bagi para pelajar untuk mempresentasikan proyek-proyek kreatif yang memadukan ilmu biologi, teknologi, dan semangat keberlanjutan. Mengangkat tema Sustainable BioFutures, para peserta ditantang untuk merancang solusi yang dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan maupun kehidupan masyarakat.
Tingginya minat mengikuti kompetisi ini terlihat dari jumlah peserta yang mencapai 146 tim. Lebih dari 600 siswa dari 60 sekolah yang tersebar di 20 kota ikut berpartisipasi dalam rangkaian seleksi yang berlangsung selama beberapa bulan.
Perjalanan menuju babak final tidaklah mudah. Setelah melewati tahap penyaringan awal dan semifinal, hanya 10 tim terbaik yang berhasil memperoleh kesempatan mempresentasikan inovasi mereka di hadapan dewan juri.
Yang menarik, sebagian besar karya yang tampil di babak puncak lahir dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Para peserta berusaha mencari solusi terhadap isu pangan, lingkungan, hingga kebutuhan dasar masyarakat dengan pendekatan ilmiah yang mudah diterapkan.
Dewan juri yang berasal dari kalangan akademisi dan industri menilai setiap karya berdasarkan aspek kebaruan ide, potensi implementasi, serta manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat. Kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri tersebut diharapkan mampu memberikan perspektif yang lebih luas kepada para peserta mengenai pengembangan inovasi.
Pada akhir kompetisi, SMA Regina Pacis Bogor berhasil meraih posisi tertinggi. Tim ini mencuri perhatian melalui rancangan wadah makanan pintar yang mampu mendeteksi gas yang muncul akibat proses pembusukan. Konsep tersebut dinilai memiliki peluang untuk membantu mengurangi pemborosan makanan sekaligus meningkatkan keamanan konsumsi pangan.
Posisi juara kedua ditempati Ekumene Christian School yang menghadirkan alat penjernih air portabel berbahan ampas kopi. Inovasi tersebut dirancang sebagai alternatif solusi penyediaan air bersih yang ekonomis untuk wilayah yang memiliki keterbatasan akses maupun daerah terdampak bencana.
Sementara itu, SMA Santa Angela Bandung meraih juara ketiga. Adapun penghargaan favorit diberikan kepada Tzu Chi School PIK berkat dukungan dan apresiasi yang diperoleh dari peserta maupun pengunjung.
Kepala Program Studi Biotechnology i3L University, Dina Hermawaty, mengungkapkan bahwa kompetisi tahun ini memperlihatkan kemampuan generasi muda dalam memahami tantangan yang ada di lingkungan mereka.
Menurutnya, para peserta tidak sekadar menawarkan ide kreatif, tetapi juga menunjukkan pemahaman mengenai bagaimana sebuah inovasi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
“Hal yang membuat kompetisi tahun ini terasa istimewa adalah bagaimana para siswa mampu merespons kebutuhan nyata di sekitar mereka melalui ide-ide yang tidak hanya kreatif, tetapi juga relevan, praktis, dan berdampak,” kata Dina.
Selain kompetisi, peserta juga memperoleh pembekalan melalui sesi diskusi bersama Ilham Maulana dari Generasi Energi Bersih. Dalam sesi tersebut, para siswa diajak memahami pentingnya peran anak muda dalam menciptakan perubahan melalui inovasi yang berkelanjutan.
Penyelenggaraan iCS 2026 sekaligus menunjukkan meningkatnya minat pelajar Indonesia terhadap bidang bioteknologi. Melalui ajang ini, para siswa tidak hanya belajar mengenai teori sains, tetapi juga diajak melihat bagaimana ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Di tengah berbagai tantangan lingkungan dan kebutuhan akan inovasi berkelanjutan, karya-karya yang lahir dari tangan para pelajar tersebut menjadi gambaran bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari pencipta solusi di masa depan.










